Senin, 20 Mei 2013

Asuhan kehamilan kunjungan awal




A.                TUJUAN ASUHAN KUNJUNGAN AWAL
Mengumpulkan informasi mengenai ibu untuk membantu kita dalam membangun hubungan kepercayaan dengan ibu, mendeteksi komplikasi, dan merencanakan asuhan khusus yang dibutuhkan.
Ø    Mengkaji tingkat kesehatan
Ø    Menetapkan catatan dasar standar pembanding kemajuan kehamilan
Ø    Identifikasi faktor risiko
Ø    Diskusi kehamilan yg sdg berlangsung (kekhawatiran, dsb)
Ø    Nasihat perawatan selama hamil
Ø    Membina hubungan saling percaya

PENILAIAN KLINIK
1.        Riwayat kehamilan ini
·       Usia ibu hamil
·       HPHT / siklus haid
·       Perdarahan pervaginam
·       Keputihan
·       Mual dan muntah
·       Masalah / kelainan pada kehamilan sekarang
·       Pemakaian obat-obatan termasuk jamu-jamuan

2.        Riwayat obstetric lalu
·          Jumlah kehamilan
·          Jumlah persalinan
·          Jumlah persalinan cukup bulan
·          Jumlah persalinan premature
·          Jumlah anak yang hidup
·          Jumlah keguguran
·          Jumlah aborsi
·          Perdarahan pada kehamilan, persalinan dan nifas terdahulu
·          Adanya hipertensi dalam kehamilan pada kehamilan terdahulu
·          Berat bayi < 2500 gr atau berat bayi > 4000 gr
·          Adanya masalah-masalah selama kehamilan, persalinan, nifas terdahulu

3.        Riwayat Penyakit
·            Jantung
·            Hipertensi
·            DM
·            TBC
·            Pernah operasi
·            Alergi obat atau makanan
·            Ginjal
·            Asma
·            Epilepsy
·            Penyakit hati
·            Pernah kecelakaan

4.        Riwayat Sosial Ekonomi
·            Status perkawinan
·            Respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan
·            Jumlah keluarga di rumah yang membantu
·            Siapa pembuat keputusan dalam keluarga
·            Kebiasaan makan dan minum
·            Kebiasaan merokok, menggunakan obat-obat dan alcohol
·            Kehidupan seksual
·            Pekerjaan dan akrivitas sehari-hari
·            Pilihan tempat untuk melahirkan
·            Pendidikan
·            Penghasilan

 

PEMERIKSAAN FISIK ANC PERTAMA

Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada ANC pertama
1. Pemeriksaan fisik umum
a.          Tanda-tanda vital ibu à TD, nadi, suhu, pernapasan
b.         BB/TB
c.          Muka à oedema, pucat
d.         Mulut dan gigi à kebersihan, karies, tonsil
e.          Tiroid/gondok
f.          Tulang belakang/punggung
g.         Payudara à putting susu, tumor, pembesaran
h.         Abdomen à bekas operasi
i.           Ekstremitas à oedema, varises, refleks patella
j.           Kulit à kebersihan/penyakit kulit

2. Pemeriksaan luar
  1. Pemeriksaan panggul à hanya pada kunjungan pertama
  2. Mengukur TFU
  3. Palpasi untuk menentukan letak janin (atau lebih 28 minggu)
  4. Auskultasi DJJ
  5. Gerakan janin

3. Pemeriksaan dalam
a.        Pemeriksaan vulva/perineum
·          Varises
·          Kandiloma
·          Edema
·          Hemoroid
·          Perineum


b.       Pemeriksaan dengan speculum untuk menilai
·            Serviks
·            Tanda-tanda infeksi
·            Cairan dari OU
·            Posisi uterus

4.        Pemeriksaan laboratorium
  1. Darah
·            HB
·            Glukosa
·            Golongan darah
·            PP test
  1. Urin
·            Warna, bau,kejernihan
·            Protein
·            Glukosa

MENENTUKAN DIAGNOSA
 


Menentukan normalitas kehamilan
Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira‑kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur. Kehamilan yang terakhir ini akan mempengaruhi viabilitas (kelangsungan hidup) bayi yang dilahirkan, karena bayi yang terlalu muda mempunyai prognosis buruk.



Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi dalam 3 bagian; masing‑masing
1)      kehamilan triwulan pertama (antara 0 sampai 12 minggu);
2)      kehamilan triwulan kedua (antara 12 sampai 28 minggu);
3)      kehamilan triwulan. terakhir (antara 28 sampai 40 minggu).
Dalam triwulan pertama alat‑alat mulai dibentuk. Dalam triwulan kedua alat‑alat telah dibentuk, tetapi belum sempurna dan viabilitas janin masih disangsikan. janin yang dilahirkan dalam trimester terakhir telah viable (dapat hidup).

Bila hasil konsepsi dikeluarkan dari kavum uteni pada kehamilan di bawah 20 minggu, disebut abortus (keguguran). Bila hal ini, terjadi di bawah 36 minggu disebut partus prematurus (persalinan prematur). Kelahiran dari 38 minggu sampai 40 minggu disebut partus aterm.

Pada wanita hamil terdapat beberapa tanda atau gejala, antara lain sebagai berikut:

1. Amenorea (= tidak dapat haid). Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat ditentukan tuanya kehamilan. dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi.

2. Nausea (enek) dan emesis (muntah). Enek terjadi umumnya pada bulan‑bulan pertama kehamilan, disertai kadang‑kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness. Dalam batas‑batas tertentu keadaan ini masih fisiologik. Bila terlampau sering, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan disebut hiperemesis gravidarum.

3. Mengidam (mengingini makanan atau minuman tertentu). Mengidam sering terjadi pada bulan‑bulan pertama akan tetapi menghilang dengan makin tuanya kehamilan.

4. Pingsan. Sering dijumpai bila berada pada tempat‑tempat ramai. Dianjurkan untuk tidak pergi ke tempat‑tempat ramai pada bulan‑bulan pertama kehamilan. Hilang sesudah kehamilan 16 minggu.

5. Mamma menjadi tegang dan membesar. Keadaan ini disebabkan oleh pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli di mamma. Glandula Montgomery tampak lebih jelas.

6. Anoreksia (tidak ada nafsu makan). Pada bulan‑bulan pertama terjadi anoreksia, tetapi setelah itu nafsu makin timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai salah pengertian makan untuk "dua orang", sehingga kenaikan berat badan tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.

7. Sering kencing terjadi karena kandung kencing pada bulan‑bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang olch karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir triwulan gejala bisa timbul karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan menekan kemball kandung kencing.

8.    Obstipasi terjadi karena tonus otot menurun yang disebabkan oleh pengaruh hormon steroid.

9. Pigmentasi kulit terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas. Pada pipi, hidung dan dahi kadang‑kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Areolae mammae juga menjadi lebih hitam karena didapatkan deposit pigmen yang berlebih. Daerah leher menjadi lebih hitam. Demikian pula linea alba di garis tengah abdomen menjadi lebih hitam (= linea grisea). Pigmentasi ini terjadi karena pengaruh darl hormon kortiko‑steroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit.

10. Epulis adalah suatu hipertrofi papilla ginggiva . Sering terjadi pada triwulan pertama.

11.  Varises. Sering dijumpai pada triwulan terakhlr. Didapat pada daerah genitalia eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis. Pada multigravida kadang‑kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, timbul kemball pada triwulan pertam2. Kadang‑kadang timbulnya vanises merupakan gejala pertama kehamilan mucla.

Pada kehamilan muda bisa pula ditemukan:

12. Tanda Hegar

13. Tanda Cbadwick

14.  Tanda Piscaseck. Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut.

15.  Tanda Braxton‑Hicks. Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda ini khas untuk uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang membesar tetapi tidak ada kehamilan misalnya pada mioina uteri, tanda Braxton‑Hicks tidak ditemukan.

16. Suhu basal yang sesudah ovulasi tetap tinggi terus antara 37,2' sampai 37,8' adalah salah satu tanda akan adanya kehamilan. Geja1a ini sering dipakai dalain pemeriksaan kemandulan.

17. Cara khas yang dipakai untuk menentukan adanya buman chorionic gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pagi hari. Dengan tes kehamilan tertentu air kencing pagi hari ini dapat membantu membuat diagnosis kehamilan sedini‑dininya.


Tanda pasti kebamilan
1) dapat diraba dan kemudian dikenal bagian‑bagian janin;
2) dapat dicatat dan didengar bunyl jantung janin dengan beberapa cara;
3) dapat dirasakan gerakan janin dan balotemen;
4) pada pemeriksaan dengan sinar rontgen tampak kerangka janin;
5) dengan ultrasonografi (scanning) dapat diketahui ukuran kantong janin, panjangnya janin (crown‑rump), dan diameter biparietalis hingga dapat diperkirakan tuanya kehamilan, dan selanjutnya dapat dipakal untuk menilai perturnbuhan janin. Pula dapat dipakal bila ada kecurigaan dalam kehamilan mola, blighted ovum, kematian janin intra uterin , anensefali, kehamilan ganda, hidramnion, plasenta previa, dan tumor pelvis. Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada kehamilan 16‑18 minggu yang diperkirakan aman memang menjadi pegangan untuk pasien dan dokternya untuk pengawasan kehamilan lebih yakin dan mantap; 6) fetoskopi.

Diferensial diagnosis kehamilan
I . Pseudosiesis. Terdapat amenorea, perut membesar, tetapi tanda‑tanda kehamilan lain dan reaksi kehamilan negatif. Uterus sebesar biasa. Wanita tersebut mengaku, dirinya hamil, tetapi sebenarnya t1dak hamil. Hal ini biasanya terjadi pada wanita yang ingin sekali hamil.

2. Kistoma ovarii. Mungkin ada amenorea, perut penderita makin besar, tetapi uterusnya sebesar biasa.

3. Mioma uteri. Dapat terjadi amenorea, perut penderita makin besar, uterusnya makin besar, kadang‑kadang tidak merata. Akan tetapi tanda‑tanda kehamilan seperti tanda Braxton‑Hicks dan reaksi kehamilan negatif.

4.  Vesika urinaria dengan retensio urinae. Uterus sendiri blasa besarnya, tanda‑tanda kehamilan dan reaksi kehamilan negatif.

5. Menopause. Terdapat amenorea. Umur wanita kira‑kira di atas 43 tahun. Uterus sendiri sebesar biasa, tanda‑tanda kehamilan dan reaksi kehamilan negatif.
KETIDAKNYAMANAN UMUM SELAMA KEHAMILAN
 


Ketidak nyamanan Umum selama kehamilan dan tindakan  mengatasinya
o  Tidak semua wanita mengalami semua ketidaknyamanan yang umum muncul selama kehamilan
o  Banyak wanita mengalaminya dalam tingkat ringan hingga berat.
o  Aspek fisiologis, anatomis, dan psikologis yang mendasari setiap ketidaknyamanan (jika diketahui) dijelaskan untuk merangsang pikiran anda mencari upaya lebih lanjut untuk mengatasinya.

Contoh Ketidaknyamanan selama kehamilan
o  Nausea
o  Ptialisme (Salivasi Berlebihan)
o  Keletihan
o  Nyeri Punggung Bagian Atas (Nonpatologis)
o  Leukorea
o  Peningkatan Frekuensi Berkemih (Nonpatlogis)
o  Nyeri Ulu Hati
o  Flatulen
o  Konstipasi
o  Hemoroid
o  Kram Tungkai
o  Edema Dependen
o  Varises
o  Dispareunia
o  Nokturia
o  Insomnia
o  Nyeri pada Ligamentum Teres Uteri
o  Nyeri Punggung Bawah (Nonpatologis)
o  Hiperventilasi dan sesak nafas (nonpatologis)
o  Kesemutan dan baal pada jari
o  Sindrom Hipotensi Telentang

Diagnosis didasarkan pada kombinasi tanda praduga dan tanda kemungkinan kehamilan. Berikut adalah daftar semua tanda praduga, kemungkinan, dan positif kehamilan yang dapat dialami selama pengkajian riwayat, pemeriksaan fisik, panggul, tes laboratorium, dan penelitian tambahan yang dilakukan dan diprogramkan pemeriksaan.

Kamis, 11 April 2013

makalah otonomi dalam pelayanan kebidanan


MAKALAH ETIKA PROFESI
DAN HUKUM KESEHATAN
Tentang
Otonomi Dalam Pelayanan Kebidanan

 









Kelas : I-B
DisusunOleh :
ü Eva Wardah
ü Irana Oktana
ü Ita Nurhidayah
ü Titik Purwanti
ü Yayang Qoimatuzzahra


AKADEMI KEBIDANAN AL-FATHONAH
JAKARTA






KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, anugrah, serta hidayahnya kepada kami semua sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Etika Profesi dan Hukum Kesehatan yang berjudul “Otonomi Dalam Pelayanan Kebidanan”
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu perkenankan kami menyampaikan ucapan terimakasih banyak kepada:
1)        Allah SWT yang telah membantu memudahkan kami dalam menyelesaikan makalah ini.
2)        Ibu Hj.Mulyetti Anwar, M.Sc.,SKM selaku direktur Akademi Kebidanan Al- Fathonah Jakarta.
3)        Ibu Martaliza, SSiT selaku dosen dan koordinator  mata kuliah Etika Profesi dan Hukum Kesehatan.
4)        Teman-teman dan semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah yang telah kami buat ini masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif. Semoga makalah ini dapat menjadi bahan referensi dan bermanfaat bagi kita semua.Terimakasih.

Jakarta, 31 Maret 2013


Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………..        i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………….       ii
BAB I        PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang …………………………………………….        1
1.2         Tujuan Penulisan …………………………………………..        1
1.3         Manfaat Penulisan …………………………………………        1BAB II       PEMBAHASAN2.1         Otonomi  Dalam Pelayanan Kebidanan ................................        2
2.2         Tujuan Otonomi Dalam Pelayanan Kebidanan .....................        4
2.3         Persyaratan ............................................................................        5
2.4         Kegunaan Otonomi Dalam  Pelayanan Kebidanan ..............        5
2.5         Registrasi ..............................................................................        6
2.6         Lisensi Praktik  Kebidanan ...................................................        7
BAB III     PENUTUP
3.1     Kesimpulan   ………………………………………………        9            DAFTAR PUSTAKA




BAB I

PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang penting dan dituntut dari suatu profesi, terutama profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggungjawaban dan anggung gugat (accountability) atas semua tindakan yang dilakukan. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis kompetensi dan didasari suatuevidence based. Accountability diperkuat dengan satu landasan hukum yang mengatur batas-batas wewengan profesi yang bersangkutan.
Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki hak otonomi dan mandiri untuk bertindak secara profesional yang dilandasi kemampuan berfikir logis dan sistematis serta bertindak sesuai standar profesi dan etika profesi.
1.2         Tujuan  Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai  Otonomi dalam Pelayanan Kebidanan.
1.3         Manfaat Penulisan
Lebih bisa Mengetahui Tentang Otonomi Pelayanan Kebidanan agar bisa bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan Oleh Bidan.

1
 

BAB II
PEMBAHASAN
2.1         Otonomi  Dalam Pelayanan Kebidanan
Profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggungjawaban dan tanggung gugat (accountability) atas semua tindakan yang dilakukannya. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis kompetensi dan didasari suatu evidence based. Accountability diperkuat dengan satu landasan hukum yang mengatur batas-batas wewenang profesi yang bersangkutan.
Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki hak otonomi dan mandini untuk bertindak secara profesional yang dilandasi kemampuan berfikir logis dan sistematis serta bertindak sesuai standar profesi dan etika profesi.
Praktik kebidanan merupakan inti dan berbagai kegiatan bidan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan yang harus terus menerus ditingkatkan mutunya melalui:
1.   Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.
2.   Penelitian dalam bidang kebidanan.
3.   Pengembangan ilmu dan tekhnologi dalam kebidanan.
4.   Akreditasi.
5.   Sertifikasi.
6.   Registrasi.

2
7.   Uji Kompetensi.
8.   Lisensi
Beberapa dasar dalam otonomi dan aspek legal yang mendasari dan terkait dengan pelayanan kebidana antara lain sebagai berikut:
1)             Kepmenkes Republik Indonesia 900/ Menkcs/SK/ VII/ 2002 Tentang registrasi dan praktik bidan.
2)             Standar Pelayanan Kebidanan, 2001.
3)             Kepmenkes Republik Indonesia Nomor 369/Menkes/SK/III/ 2007 Tentang     Standar Prof esi Bidan.
4)             UU Kesehatan No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
5)             PP No 32/Tahun 1996 Tentang tenaga kesehatan.
6)             Kepmenkes Republik Indonesia 1277/Menkes/SK/XI/2001    Tentang organisasi dan tata kerja Depkes.
7)             UU No 22/ 1999 Tentang Otonomi daerah.
8)             UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
9)             UU tentang aborsi, adopsi, bayi tabung, dan transplantasi.
10)         KUHAP, dan KUHP, 1981.
11)         Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 585/  Menkes/ Per/ IX/ 1989 Tentang Persetujuan Tindakan Medik.
12)         UU yang terkait dengan Hak reproduksi dan Keluarga Berencana.
a)        UU  No.10/1992 Tentang pengembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.
b)        UU No.23/2003 Tentang Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan di Dalam Rumah Tangga.
2.2         Tujuan Otonomi Dalam Pelayanan Kebidanan
Supaya bidan mengetahui kewajiban otonomi dan mandiri yang sesuai dengan kewenangan yang didasari oleh undang – undang kesehatan yang berlaku.
Selain itu tujuan dari otonomi pelayanan kebidanan ini meliputi :
1)        Untuk mengkaji kebutuhan dan masalah kesehatan
Misalnya mengumpulkan data – data dan mengidentifikasi masalah pasien pada kasus tertentu.
2)        Untuk menyusun rencana asuhan kebidanan.
Merencanakan asuhan yang akan diberikan pada pasien sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh pasien tersebut.
3)        Untuk mengetahui perkembangan kebidanan melalui penelitian.
4)        Berperan sebagai anggota tim kesehatan
Misalnya membangun komunikasi yang baik antar tenaga kesehatan, dan menerapkan keterampilan manajemen
5)        Untuk melaksanakan dokumentasi kebidanan
Mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilakukan, mengidentifikasi perubahan yang terjadi dan melakukan pendokumentasian.
6)        Untuk mengelola perawatan pasien sesuai dengan lingkup tanggung jawabnya.Membangun komunikasi yang efektif dengan pasien dan melakukan asuhan terhadap pasien.


2.3         Persyaratan
 Suatu ketentuan untuk melaksanakan praktek kebidanan dalam memberikan asuhan pelayanan kebidanan sesuai dengan bentuk – bentuk otonomi bidan dalam praktek kebidanan. 
Syarat – syarat dari otonomi pelayanan kebidanan meliputi :
1)        Administrasi
Seorang bidan dalam melakukan praktek kebidanan, hendaknya memiliki sarana dan prasarana yang melengkapi pelayanan yang memiliki standard dan sesuai dengan fasilitas kebidanan.
2)        Dapat diobservasi dan diukur
Mutu layanan kesehatan akan diukur berdasarkan perbandingannya terhadap standar pelayanan kesehatan yang telah disepakati dan ditetapkan sebelum pengukuran mutu dilakukan
3)        Realistic
Kinerja layanan kesehatan yang diperoleh dengan nyata akan diukur terhadap criteria mutu yang ditentukan, untuk melihat standar pelayanan kesehatan apakah tercapai atau tidak
4)        Mudah dilakukan dan dibutuhkan.
2.4         Kegunaan Otonomi Dalam  Pelayanan Kebidanan
Otonomi pelayanan kesehatan meliputi pembangunan kesehatan, meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat dalam upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas
2.5         Registrasi
Registrasi adalah proses seorang profesi untuk mendaftarkan dirinya kepada badan tertentu untuk mendapatkan kewenangan dan hak atas tindakan yang dilakukan secara professional setelah memenuhi syarat – syarat yang telah ditetapkan oleh badan tersebut.
Pengertian registrasi menurut keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 yaitu proses pendaftaran, pendokumentasian dan pengakuan terhadap seorang bidan setelah memenuhi standar penampilan minimal yang ditetapka sehingga mampu dalam melaksanakan profesinya.
Setelah terpenuhnya persyaratan yang ada, maka tenaga profesi tersebut telah mendapatkan surat izin melakukan praktik.
Ø  Tujuan :
1)        Mendata jumlah dan kategori melakukan praktik
2)        Meningkatkan mekanisme yang objektif dan komprehensif dalam penyelesaian dalam kasus malpraktik
3)        Meningkatkan kemampuan tenaga profesi dalam mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat.
Ø  Persyaratan :
Beberapa syarat yang mesti dilengkapi pada saat mengajukan registrasi:
1)        Fotocopy ijazah bidan
2)        Fotocopy transkip nilai akademik
3)        Surat keterangan sehat dari dokter
4)        Pas foto 4 X 6 sebanyak 2 lembar
Masa berlaku registrasi yaitu dalam rentang waktu 5 tahun, setelah 5 tahun bidan harus melakukan registrasi ulang.
Ø  Kegunaan
Registrasi berguna untuk mendapatkan surat izin bidan sebagai dasar menerbitkan surat izin praktek bidan.
Bidan teregistrasi merupakan seseorang yang telah menamatkan pendidikan bidandan telah mampu menrapkan kemampuannya dalam memberikan asuhan kepada ibu dan anak sesuai dengan standar profesinya.
2.6         Lisensi Praktik  Kebidanan
Lisensi praktik kebidanan merupakan proses administrasi yang dilakukan pemerintah dalam mengeluarkan surat izin praktik yang diberikan kepada suatu tenaga profesi untuk pelayanan yang mandiri.
Menurut IBI : Lisensi adalah pemberian ijin praktek sebelum diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah ditetapkan.
Ø  Tujuan
1)        Memberikan kejelasan batas wewenang
Dalam hal ini, seorang bidan harus mengetahui wewenang yang harus dilakukannya sesuai dengan standar profesi yang dimiliki dan sesuai dengan undang – undang yang berlaku agar dalam menjalankan profesinya tidak melakukan pelanggaran – pelanggaran.
2)        Menetapkan sarana dan prasarana
Seorang profesi juga harus mengetahui apa – apa saja sarana dan prasana yang mesti dimiliki dalam melakukan praktek profesi.
3)        Meyakinkan klien
Dalam melakukan asuhan terhadap klien, seorang tenaga profesi harus bisa meyakinkan klien tersebut terhadap asuhan yang telah kita berikan dan jelaskan.
Ø  Persyaratan
Syarat – syarat yang harus dipenuhi dalam mengajukan license praktik suatu profesi meliputi :
1)        Fotokopi SIB yang masih berlaku
2)        Fotokopi ijazah bidan
3)        Surat keterangan sehat
4)        Rekomendasi dari organisasi profesi
5)        Pas foto ukurab 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar






BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Profesi kebidanan menyangkut dengan keselamatan jiwa manusia yang menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat atas semua tindakan kebidanan yang dilakukan. Praktik kebidanan merupakan sesuatu yang sangat penting dan dituntut dalam profesi kebidanan.
Tindakan yang dilakukan oleh profesi kebidanan ini didasari oleh kompetensi dan evidence base dan diperkuat oleh landasan hukum yang mengatur profesi yang bersangkutan.
Seorang bidan memiliki kewenangan atas hak otonomi dan kemandirian untuk bertindak secara professional yang memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar profesi kebidanan. Jadi otonomi dalam pelayanan kebidanan ini adalah kekuasaan seorang bidan dalam melakukan praktik kebidanan yang sesuai dengan peran dan fungsi bidan berdasarkan wewenang yang dimiliki oleh bidan itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA
Wahyuningsih,Heni Puji. 2009.  Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta.Fitramaya, 2009
Ayurai. 2009. Otonomi dalam pelayanan Kebidanan. www.google.com. 09 Maret 2011